Program Pertukaran Guru dan Dosen ke Luar Negeri, Kenapa Tidak?

Kita sudah sering mendengar tentang program pertukaran pelajar. Misalnya, pelajar dari Indonesia mengikuti mata kuliah dari universitas di negara lain, dan sebaliknya juga mengundang pelajar dari universitas di negara lain untuk datang ke Indonesia. Tapi pertukaran dosen dan guru, walaupun mungkin ada, tapi lebih jarang terdengar dan terjadi, terutama tenaga pengajar dari luar negeri yang datang ke Indonesia. Di artikel ini, saya akan membahas kenapa ide program pertukaran tenaga pengajar bisa menguntungkan dengan contoh konteks pertukaran pengajar Indonesia dan Eropa, walaupun bukan berarti ini tidak dapat diaplikasikan untuk pertukaran pengajar antara Indonesia dengan negara lainnya.

Apa keuntungan para pengajar luar kalau datang ke Eropa?

Tidak dapat dipungkiri bahwa sistem akademis Eropa dinilai lebih berkualitas dari Indonesia. Lulusan Eropa biasanya lebih percaya diri dan kritis dalam berpikir. Universitas-universitasnya maju, lengkap dengan segala fasilitas dan koneksi dengan berbagai ilmuwan dari belahan dunia lain. Jadi bagaimana bisa tenaga pengajar dari Eropa tertarik untuk mengajar di Indonesia?

  1. Budaya untuk menghargai para guru. Sebagai penduduk negara Indonesia, bersekolah di Indonesia, dan sebagian menjadi dosen dan guru di Indonesia, pastinya kita sudah terbiasa dengan sistem pendidikan di Indonesia, budaya, dan prosedur-prosedur di dalamnya. Contoh, secara umum, para pengajar di Indonesia lebih dihormati oleh para pelajar, para pelajar lebih fleksibel dalam bekerja tapi lebih patuh dengan deadline. Sedangkan di Eropa misalnya, pada umumnya pelajar lebih santai menghadapi para pengajar, deadline bisa dinegoisasikan, tidak menganggap lulus tepat waktu itu penting (terutama di perguruan tinggi), walaupun pelajar disiplin dalam bekerja. Jadi, tentu masih ada poin-poin di mana tenaga pengajar dari luar negeri bisa belajar dari tenaga pengajar di Indonesia?
  2. Isu global akan kelestarian lingkungan. Indonesia memiliki masalah polusi di kota-kota besar dan sistem yang belum memihak pada kelestarian lingkungan (misalnya pengelolaan sampah, transportasi umum). Tapi, secara umum, rasanya masyarakat masih tidak se-konsumtif masyarakat di Eropa. Hanya segolongan kecil masyarakat yang bisa dengan mudah makan daging lezat dan belanja kebutuhan sekunder dan tersier. Untuk para pelancong, mungkin kalian tahu bahwa tiket pesawat antar provinsi di Indonesia masih mahal dibanding tiket pesawat antar negara di Eropa, yang mana bagus artinya untuk kelestarian lingkungan Indonesia. Jadi, para pengajar di Eropa, yang saat ini sangat prihatin dengan isu lingkungan, bisa membantu pendidikan Indonesia untuk bisa lebih maju dalam akses dan ekonomi, sekaligus membantu pengawasan kelestarian lingkungan. Tentunya pendidikan dan kebijakan tentang kelestarian lingkungan tidak hanya penting untuk Eropa, tapi untuk seluruh negara di dunia, terutama Indonesia sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman lingkungan.
  3. Misi kemanusiaan. Indonesia dengan banyak provinsinya termasuk daerah-daerah di pedalaman masih banyak kekurangan tenaga pengajar. Bisa mengajar di Indonesia, dengan segala tantangan geografisnya, bisa menjadi sebuah misi kemanusiaan dan pengalaman yang berharga untuk para pengajar di negara maju seperti di Eropa. Saya teringat akan Seligman’s PERMA model di mana mendapatkan makna, nilai-nilai, tujuan yang lebih besar (purpose) menjadi salah satu dari lima pilar kebahagiaan dan kesejahteraan hidup seseorang.

Bagaimana dengan keuntungan para pengajar Indonesia datang ke Eropa?

Hal ini rasanya sudah sering dibahas, terlihat dari tingginya antusias para pelajar atau pengajar Indonesia untuk mengikuti pendidikan di Eropa (dan juga negara lainnya). Di bawah ini saya hanya akan menyebutkan poin-poin singkat alasan kenapa pengajar Indonesia bisa banyak belajar dari pendidikan di Eropa.

  1. Berpikir kritis: teori-teori dan temuan-temuan, terutama yang sifatnya aplikasi, tidak mutlak sifatnya. Penting untuk selalu kritis, melihat dari sisi lain, objektif dalam berpikir.
  2. Berpikir secara kreatif: kreatif tentunya tidak hanya penting dalam seni, atau produk, namun juga dalam teori. Berpikir secara kreatif dapat membantu seseorang berpikir secara kritis. Mungkin teori di buku mengatakan ada 10 tahap dalam membuat sebuah sistem daur ulang, tapi ternyata bisa juga dibuat dalam 15 tahap atau 5 tahap bahkan dengan urutan berbeda.
  3. Koneksi: banyak pengajar dan peneliti dari berbagai belahan dunia yang terafiliasi di universitas di Eropa, jadi tentunya sangat bisa menambah koneksi dan bekerja sama dalam proyek-proyek penelitian.
  4. Fasilitas: Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar negara di Eropa maju secara ekonomi dan pendidikan, yang mana membuat fasilitas penunjang pengajaran sangat lengkap dan selalu berkembang, jadi mempermudah pekerjaan para pengajar, dan bisa menjadi inspirasi.
  5. Bapak pendidikan: Eropa (dan juga Afrika utara) merupakan wilayah di mana universitas-universitas tertua di dunia terdapat di dalamnya. Tentunya banyak ilmu seperti sistem pendidikan yang bisa dipelajari dari mereka.

Bagaimana supaya sistem pertukaran tenaga pengajar bisa berkelanjutan?

Untuk pengadaan sistem pertukaran para pengajar, juga terdapat poin-poin penting yang harus tersedia untuk menunjang produktivitas para pengajar tamu di Indonesia atau pun di luar negeri.

  1. Tempat tinggal: untuk bisa mengundang pengajar luar negeri ke Indonesia atau sebaliknya, mesti ada kepastian tempat tinggal. Di Eropa sendiri pun sedang maraknya krisis rumah, sangat susah mencari tempat tinggal, bahkan yang sementara sifatnya. Kalau kebutuhan tempat tinggal belum bisa terpenuhi, tentunya susah untuk konsentrasi di tujuan utama para pengajar dalam sistem pertukaran. Sebaliknya di Indonesia, jika para pengajar datang ke daerah terpencil, kepastian tempat tinggal juga bisa menjadi tantangan tersendiri.
  2. Kebutuhan pangan dan air bersih: Jangan sampai para pengajar yang sudah datang jauh-jauh ini mesti berpikir keras untuk bagaimana mereka bisa makan dan minum yang layak. Air bersih pun juga penting tidak hanya untuk diminum tapi juga mesti tersedia di kamar mandi dan toilet. Mungkin lain halnya untuk daerah yang sangat terpencil, di mana masyarakatnya pun memiliki kesulitan pangan dan air bersih. Di sini nilai kemanusiaan menjadi faktor paling penting untuk menunjang pertukaran pengajar.
  3. Istirahat dan akses komunikasi: hal yang terlihat sepele tapi istirahat itu adalah salah satu kebutuhan pokok hidup, jadi fasilitas untuk istirahat seperti tempat dan waktu tidur yang cukup, dan sedikit hal yang bisa menghibur, misalnya fasilitas untuk relaksasi di akhir pekan yang terjangkau (terutama kalau pertukaran terjadi di kota besar), bisa membuat pengajar lebih semangat saat bekerja tentunya. Akses komunikasi – tetap bisa berhubungan dengan kerabat atau keluarga di negara asal – bisa memberikan akses bagi pengajar untuk mempresentasikan pengalaman mereka selama bekerja kepada rekan-rekan mereka di negara asal dan tentunya menjaga komunikasi dengan keluarga akan menjaga kebahagian dan memberikan rasa aman.

Segitu kiranya buah pikiran saya hari ini. Mungkin masih banyak hal yang sekiranya tidak sempat terpikirkan atau tertuliskan, saya akan sangat senang mendengarkan apa pendapat anda di kolom komentar. /ELF


Leave a comment