Ketika kamu tinggal di semacam apartment, apalagi dengan kondisi cuaca luarnya yang biasanya berkisar antara 0 sampe 20 derajat celcius, gak ada pilihan lain selain naro tanaman-tanaman tropis nan eksotis di dalam rumah. Hal itulah yang gue lakuin sekarang semenjak gue tinggal sendiri di sebuah apartment/flat di Den Haag dari sekitar dua tahunan yang lalu. Beli tanaman, lagi dan lagi, sampe isi rumah udah kaya hutan kecil haha. Jadi di postingan ini gue bakal nulis tentang tanaman apa aja yang gue punya dan sejak kapan gue punya tanaman tersebut. Selamat membaca!

Di foto pertama ini (semua foto diambil pada tanggal 12 Juli 2020) ada 5 jenis tanaman. Tanaman yang letaknya di rak paling atas itu namanya (a) Philodendron scandens brasil, gue beli sekitar Desember 2019. Waktu itu daunnya belum ada yang merambat kaya gitu, masih bener-bener di atas pot aja lokasinya. Sekarang udah lumayan mulai keliatan rambatannya XD
Tanaman yang kedua (b) masih sekeluarga sama tanaman (a), tapi yang satu ini warnanya hijau polos aja, sebut saja si (b) Philodendron scandens (hijau polos). Di foto keliatan ada dua pot, yang gue beli waktu itu adalah yg lebih besar yang udah merambat sampai lantai. Gue beli tanaman ini sekitar September 2019, waktu itu udah mulai merambat, pas beli mungkin ukurannya kaya tanaman (a) sekarang ini. Sekitar Desember 2019 gue perbanyak tanaman ini dengan teknik stek daun (kalo gak salah nama tekniknya ini ya), jadilah tanaman (b) kedua yang ada di rak kedua itu.
Lanjut ke tanaman (c) Chlorophytum comosum dan (d) Chlorophytum comosum (hijau polos). Kedua tanaman ini dari keluarga yang sama, tapi yang satu non-variegated (hijau polos) dan katanya sih yang ini lebih jarang ada di pasaran haha. Dua tanaman ini gak gue beli, gue stek dari tanamannya ibu kos 😛 Jadi di apartment ini ada dua tanaman ini, masing-masing satu, dan udah beranak-anak. Karena waktu itu gue baru mulai bercocok-tanam urban gini, gue takut bakal mati tuh tanaman di tangan gue. Jadi gue tumbuhin lah anak-anaknya di pot baru. Ternyata sampe sekarang tanaman orangtuanya masih hidup dan beranak terus XD Jadi banyak banget dua tanaman ini di tempat gue, yang di foto ini pun gak ada setengahnya 😛 Sampe anak-anaknya pun udah mulai beranak juga kaya yang terlihat di foto ini 😛
Tanaman yang terletak pas di depan perapian kosong itu, kalo kalian tau, tanaman yang lagi ngetren di masa kini.. Namanya (e) Monstera deliciosa XD Tanaman ini gue beli sekitar Januari 2020 kali ya. Daunnya belum begitu nambah banyak sampe sekarang, tapi malah akarnya yang terus numbuh. Ada dua akar aerial yang tingginya udah hampir setinggi tanaman itu sendiri; keliatan di foto itu ada di balik tanamannya, mulai mencoba manjat perapian. Gue rasa ini tanaman butuh dipindahin ke pot baru dan dikasih tiang penyangga gitu (bakal gue lakuin secepatnya).

Di foto kedua ini terlihat tanaman-tanaman selanjutnya yang kebanyakan masih agak kecil. Letaknya juga di atas perapian di bagian kiri. Gue mulai dari tanaman (f) Pilea peperomioides, atau bisa disebut Chinese money plant di Amerika, atau pannenkoeken plant di Belanda (lucu ya), dan (g) Ficus elastica ‘Tineke’ atau biasa disebut pohon karet di Indonesia. Kedua tanaman ini (f) & (g) gue beli waktu mereka masih kecil-kecil banget, sekitar Desember 2019. Tumbuhnya agak pelan awal-awal, tapi mulai bulan Maret 2020 (masuk musim semi) tumbuhnya langsung whussh cepet banget XD
Tanaman (l) juga masih sekeluarga dengan (g), tapi yang satu ini bernama (l) Ficus elastica ‘Abidjan’. Baru aja gue beli minggu lalu hahaha, tepatnya di bulan Juli 2020. Tanaman (i) fittonia pink dan (k) fittonia merah juga gue beli barengan minggu lalu. Di foto ini belum sempet dipindahin ke pot yang lebih besar, tapi waktu tulisan ini dibuat, harusnya beberapa tanaman yang ada di foto ini udah dipindahin ke pot yang lebih besar.
Selanjutnya, kalian bisa liat ada pohon pisang mini (h) Musa Dwarf Cavendish dan tanaman merambat ivy (j) Hedera helix (variegated, tidak hijau polos). Hedera helix (j) ini udah gue beli sejak lama, sekitar September 2019 bareng sama tanaman (b). Cuman tanamannya sempet terserang hama gitu, kayanya ada telur serangga deh (tidaaak). Jadi gue potong sedikit untuk dijadiin tanaman baru (tentunya setelah dibersihin), terus gue buang sisanya. Kalo tanaman satu lagi, si pohon pisang (h) itu merupakan anaknya (tunas) dari tanaman aslinya yang gue beli sekitar September 2019 juga kayanya. Tanaman aslinya bisa dilihat di foto berikut.

Di foto terakhir ini kalian bisa liat tanaman asli (emaknya) si pohon pisang (h). Kalian sadar gak sih pohon pisang itu gak ada batangnya? Batangnya itu cuma terdiri dari tumpukan daun-daun. Makanya kalo di bahasa inggris, pohon pisang itu disebut ‘banana plant’ dan bukan ‘banana tree’. Kalo di Indonesia itu nama formalnya apa sih? Apa beneran pohon pisang? Gue seringnya sih denger orang-orang nyebutnya langsung ‘pohon pisang’. Mungkin karena lebih simpel ya dibanding nyebut ‘tanaman pisang’.
Selain itu, di foto ini juga ada tanaman (m) Goudpalm/Areca palm (Dypsis lutenscens) alias pohon palem yang gue beli barengan sama tanaman-tanaman kecil yang ada di atas perapian (i) (k) (l) di bulan Juli 2020 ini, dan juga satu tanaman yang sering ada di pinggir jalan di Jakarta (paling gak di sekitar rumah orangtua gue :P) yang bernama (n) Croton Codiaeum. Gue beli (n) ini di hari yang sama pas gue beli si pohon pisang, sekitar September 2019. Akhir-akhir ini si (n) lagi tumbuh cepat, kalo kalian lihat daun-daun yang masih hijau di paling atas, itu baru tumbuh sekitar 2 minggu yang lalu dan sekarang udah lebaar XD
Begitulah jenis-jenis tanaman yang ada di dalem tempat tinggal gue sekarang. Sebenarnya masih ada beberapa tanaman lagi yang gak ada di foto ini, tapi ya hampir semua sisanya tanaman Chlorophytum comosum (c) (d), dan satu tanaman lagi punya-nya ibu kosan haha. Jadii, sekian dulu postingan kali ini ya. Sampai jumpa di postingan berikutnya!
/ Ev /