Sebagian teman saya menilai bahwa; saya sering bengong. Sebagai contoh, ketika itu saya bersama teman-teman sedang makan nasi goreng di belakang gedung kantor lama. Di tengah perbincangan makan malam tersebut, tiba-tiba salah satu teman saya berkata, “Vani sudah memasuki waktu diam.” Kemudian saya tersadar bahwa saya sudah bengong untuk sekian menit.
Tapi tidak semua bengong itu buruk. Kadang-kadang saya bengong untuk merumuskan suatu teori. Teori yang tidak penting namun sayang untuk tidak dipikirkan. Teori yang sering muncul namun sering terlupakan. Tulisan ini pun muncul karena saya teringat sebuah teori yang tercetus di pikiran ketika sedang bengong.
Matahari terlalu terik untuk dikatakan pagi. Namun sudut yang terbentuk antara matahari dan tanah Jakarta terlalu kecil untuk dikatakan siang. Pagi menjelang siang. Saya duduk di sisi kanan Kopaja 614, tempat yang paling pas untuk mendapat sinar matahari pagi menjelang siang. Tempat yang paling tidak pas untuk penduduk negara tropis.
Kopaja 614 dengan lambatnya berjalan sepanjang Jalan Ragunan. Melewati adik-adik kelas di SMA 28 yang sedang melaksanakan pelajaran olahraga. Melewati warung internet langganan yang sudah diganti menjadi 7-Eleven. Tidak jauh dari situ, puluhan kendaraan antre untuk melewati lampu merah. Tiga musisi jalan sudah bergantian masuk dan keluar Kopaja 614. Pikiran saya mulai melantur ke mana-mana. Hingga akhirnya sebuah teori terlintas di pikiran saya.
Bahasa Indonesia itu sulit.

Terhitung sudah tujuh minggu saya menjadi pengguna Kopaja 614 semenjak beralih dari Commuter Line (sudah dikurangi hari-hari di mana membawa kendaraan pribadi adalah keputusan yang bijaksana sehubungan dengan kosongnya Jakarta di kala sehabis lebaran). Sebenarnya, datangnya teori tersebut mudah saja. Jakarta yang masih penuh asap, Jakarta yang masih memiliki angka kemiskinan tinggi, Jakarta yang penuh oleh gedung perkantoran, Jakarta yang ditempati oleh para pekerja dari luar Indonesia.
Saya kenal seseorang dari Prancis, dia sudah bekerja di Jakarta lebih dari setahun dan sedang mengikuti kelas bahasa Indonesia. Dia pernah mengeluh kepada saya tentang sulitnya belajar bahasa Indonesia. Tapi kenapa? Bukankah dalam Bahasa Indonesia tidak dibedakan antara kata masa lampau dan masa depan? Bukankah dalam Bahasa Indonesia tidak ada penggolongan jenis kelamin pada kata benda, bahkan pada kata ganti orang sekalipun?
Saya teringat akan pekerjaan saya di kantor. Menguji ketepatan aplikasi dengan fungsi yang diharapkan. Sebuah aplikasi berbahasa Swedia yang dilengkapi dengan dokumentasi berbahasa Swedia. Terimakasih kepada Google Translate. Bahasa Swedia berhasil diterjemahkan dengan rapi menjadi bahasa Inggris. Lantas, bagaimana dengan Jakarta yang ditempati oleh para pekerja dari luar Indonesia?
Mari kita telusuri tulisan kita di media sosial. Berapa banyak kalimat yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar? Salin dan tempel sebuah kalimat di Google Translate kemudian terjemahkan ke bahasa Inggris.
Contoh – tweet saya seminggu yang lalu:
Abis nulis review di goodreads. Kayanya ini prtama kalinya ngereview! Trakhir nulis2 sotoy itu pas UAS komas *menyesal* *tiba2 jd pgn nulis*
Setelah diterjemahkan dengan Google Translate:
Abis write a review on Goodreads. This rich ngereview prtama time! Trakhir nulis2 sotoy it fit UAS KOMAS * sorry * sn * tiba2 write PGN *
Memang jika dikategorikan dari satu sampai lima, kemiripan struktur bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris masuk di kategori tiga, dengan bahasa Swedia di kategori satu, dan bahasa Jepang di kategori lima (http://www.effectivelanguagelearning.com/language-guide/language-difficulty).
Tapi jika menulis bahasa Indonesia seperti tweet saya tadi, bagaimana bisa orang mengerti dengan hasil terjemahannya? Pantas saja teman saya mengeluh. Apa yang diajarkan oleh guru bahasa Indonesia-nya pasti sangat berbeda dengan apa yang ia dengar sehari-hari. Sangat sulit rasanya untuk mengubah bahasa sehari-hari kita menjadi bahasa Indonesia baku. Untuk sekarang ini, setidaknya ada tiga hal yang bisa dilakukan untuk memperbaiki bahasa kita; 01 – kurangi penggunaan kata yang disingkat, 02 – kurangi penggunaan kata dengan ejaan yang salah, 03 – kurangi penggunaan kata yang tidak baku.
Jadi, jika tweet saya tadi diperbaiki, kira-kira jadi seperti ini:
Baru bikin review di goodreads. Pertama kalinya bikin review! Terakhir nulis itu di UAS komas *menyesal* *tiba-tiba pengen nulis*
Setelah diterjemahkan menjadi:
Make a new review on Goodreads. First time to make a review! The last write in UAS KOMAS * sorry * suddenly want to write *
Begitulah sekiranya, sebuah teori untuk hari ini. Tulisan ini pun jika diterjemahkan dengan Google Translate belum tentu berhasil menjadi sebuah tulisan berbahasa Inggris yang benar. Semangat Indonesia!